CoderTalk: Tiyo Avianto, Founder IoT Company Cubeacon

Tanggal 15 Oktober 2016 yang lalu saya ikut bergabung untuk meliput acara BEKRAF Developer Day Makassar. Disana hadir semua pembicara yang keren dan pro di bidangnya. Salah satunya yaitu mas Avianto Tiyo atau panggilannya Tiyo.

Saat sarapan pagi, saya dan Tiyo menyempatkan waktu untuk berbincang bincang mengenai dia dan juga pekerjaannya sebagai founder dari Cubeacon. Cukup menarik pembicaraan utamanya tentang teknologi IoT dan perusahaannya itu merupakan salah satu unggulan yang ada di Indonesia dan telah menerima pesanan dari berbagai negara untuk produk nya tersebut. Baiklah, berikut ini kita simak profil nya dan Cubeacon :

Mas Tiyo, dulu menimba ilmu dimana aja sih?

Saya dulu lulusan Teknik Elektro ITS angkatan 2006. Saat itu saya sering eksplorasi dengan hardware dan code di level Kernel atau low level programming dan itu sulit lho. Sekarang sudah enak sekali dan mudah untuk belajar tentang hardware, contohnya sudah ada Arduino yang tidak perlu belajar dan buat dari nol.

Baca juga: IoT - Membuat Aplikasi Android untuk Memantau Suhu Ruangan

Mulai kapan terjun di Industri IT terutama IoT dan Hardware?

Low level Coding itu cukup sulit, saya dulu bukannya seneng tapi terpaksa karena tuntutan kuliah ingin dapet nilai A. Ya betul memang awalnya terpaksa, tapi ya makin sering dilakukan ternyata makin menyenangkan. Terhitung sejak tahun 2007 itu saya mulai eksplorasi lebih jauh tentang hardware. Dulu pakai Assembly, sebenarnya kalau belajar pemrograman ya dari pascal dasar boleh lha.

Sekarang ini Cubeacon sebetulnya perusahaan turunan (sister company) dari perusahaan di Makassar. Mereka sebetulnya sudah memiliki bisnis yang berdiri sekitar 15-20 tahun lalu, namun mereka mau membuat perusahaan baru di bidang TI. Sejak 2014 lah saya bergabung dengan Perusahaan baru tersebut dan diberi nama Cubeacon. Sebetulnya Cubeacon sudah dibentuk sejak 2013, namun mulai masa produktif nya 2014 kemarin.

Awal Cubeacon hadir, teknologi apa yang digunakan?

Jadi, dulu masa Pre RnD itu kami masih di bantu oleh Jepang, yang kemudian tahap Pra RnD itu dibawalah ke Cubeacon di Surabaya. Dalam pengembangan perangkat keras seperti iBeacon atau produksi di Cubeacon punya fase fase tersendiri. Mungkin temen-temen pengembang perangkat lunak sudah fasih dengan fase nya, namun hardware itu berbeda.

Produk Cuebacon Transmitter pertama
Produk Cubeacon Transmitter pertama

Diantaranya ada Fase Pra-Produksi yaitu fase percontohan produksi seperti menentukan bahan, model dan cara pengembangan atau prosedur produk perangkat keras tersebut. Tahap Pre RnD merupakan tahap yang membutuhkan dana dan tenaga yang paling besar dalam proses produksi. Mengapa? karena produk prototype/produk tahap pra-produksi ini belum tentu bisa langsung di gunakan, layaknya perangkat lunak dengan konsep minimum Viable product (MVP). Saat produk berupa prototype, produk hardware itu tampilannya masih berantakan, tidak menarik dan ga akan laku deh di pasaran, apalagi kalau buat enterprise... udahlah itu mimpi kalau mau jual prototype doank.

Bagi yang mau jadi seorang hardware minded atau makers, selalu perhatikan dan utamakan tahap pre-produksi tersebut! Kita perlu melakukan setiap hal dalam tahap ini dengan teliti, karena yang dibutuhkan adalah presisi dan tidak ada ccelah dalam pembuatan nya. Bila terjadi hal yang tidak akurat dan presisi, produk tersebut tidak bagus bahkan bisa mencelakakan pengguna nya.

Baca juga: Kembangkan Aplikasi Solusi IoT XL Rangkul Developer Lokal

Sekarang sudah berapa produk yang dirilis, mohon jelaskan ya?

Sekarang dari 2 produk yang rilis ke market sudah sekitar 5000 unit menuju 10.000 unit. Dari 2 produk yang sudah di produksi dan di pasarkan, sekarang kita sedang memproduksi (dengan fase-fase di atas) namun belum di pasarkan. Kemungkinan baru rilis akhir tahun 2016 atau awal tahun 2017 tapi memang perlu di incubate dulu di internal. Kita perlu melakukan Quality assurance dari produk ke-3 tersebut, dan menjaga agar kualitasnya baik saat ke pasaran.

Produk Cuebacon Transmitter ke-2
Produk Cubeacon Transmitter ke-2

Proses QA itu pake acceleration test yang membutuhkan waktu sekitar 2 bulan. Biasanya disini kita bisa memproyeksikan mengenai kondisi produk masih akan bagus digunakan selama 2 tahun ke depan, tahan kondisi suhu yang berganti, kondisi baterai, air dan lain sebagainya. Selanjutnya bila barang sudah lolos QA, maka kita akan kirim sample ke Schenzhen China, disana ada jasa untuk sertifikasi CE dari produk yang kita produksi. Kita kirim 5-10 sample untuk di uji dan dinyatakan layak memperoleh sertifikasi keamanan dan kelayakan CE. Kenapa kami pilih di Schenzen, karena biaya memperoleh sertifikat CE disana jauh lebih murah dibanding ke Amerika atau Kanada.

Produk pertama dan kedua berupa DevKit, keduanya sama berfungsi sebagai transmitter hanya beda bentuk dan pasarnya. Produk pertama berbentuk Kotak, sedangkan kedua berbentuk Kartu. Produk ke-3 yang akan dipasarkan memiliki fungsi sebagai reader atau scanner dari kedua produk sebelumnya. Lalu, produk ketiga ini dierncanakan memiliki 3 varian berbeda tergantung dari pasar dan peruntukannya, yang sekarang diproduksi adalah varian pertama.

Mengenai variannya itu sendiri, varian pertama dari produk ke-3 untuk small office dan indoor, varian kedua untuk enterprise  misal pabrik, bentuk dan daya tahan varian kedua lebih solid juga memiliki kemampuan Input dan Output. Lalu varian ketiga untuk keperluan outdoor seperti di jalan yang terkena hujan dan panas secara langsung. Namun dari ketiga varian tersebut tetap memiliki fungsi yang sama.

Selain Pekerjaan di Cubeacon, apa saja aktifitas mas Tiyo diluar jam kerja?

Dalam seminggu, saya suka mengadakan Skype QnA rutin antara hari selasa atau kamis selama kurang lebih 1 jam (jeda sholat maghrib ke isya). Wakut sharing itu biasanya kesempatan untuk berdiskusi dan bertanya kepada saya perihal permasalahan di sisi hardware, segala macam optimasi seperti SMT (Surface Mount Technology). Contohnya : SMT yang efisien metodenya gimana?, Material PCB yang bisa digunakan apa? kalau misal material PCB jelek, bisa ga dilapis tembaga yang bagus!

Semacam itulah pertanyaannya, pokoknya yang berkenaan dengan rekayasa manufakturing. Karena dalam manufaktur itu, usaha utama ialah melakukan efisiensi sebaik mungkin, karena dengan efisiensi 100 perak tiap unit pun sangat berharga. Kemudian saat preprocessing merupakan saat saat yang paling memakan biaya produksi lebih besar, oleh karena itu perlu efisiensi disini.

Bahkan, pertanyaan dalam sharing itu ga sedikit mengenai gimana sih cara buat belajar dari awal soal hardware. Sementara ini aku belum punya dokumen panduan khusus sih, lebih seneng diskusi langsung aja via chat di slot waktu tersebut, meskipun memang ya... berulang pertanyaannya.

Baca juga: Fuchsia, Sistem Operasi Baru dari Google untuk Perangkat IoT

Harapannya dengan aktifitas tersebut apa mas?

Sharing ini intinya karena dulu saya belajar dari rekan rekan di panasonic, bahkan dari 0. Ketika teringat kondisi saya sekitar 2 tahun lalu itu masih belum tahu apa apa, nah dengan sharing ini semoga bisa mempercepat waktu belajar temen-temen yang masih belajar. Saya juga punya keinginan untuk membantu terbentuknya ekosistem dan komunitas hardware developer. Seperti halnya Codepolitan, Dicoding, Dirakit dengan aktifitasnya bisa menyebarluaskan ilmu dan semakin banyak orang yang tergabung dan terlihat talenta nya. Karena biasanya persaingan yang sehat itu diawali dari pertemanan yang sangat sehat.

Adakah pesan yang ingin mas sampaikan mengenai Hardware dan IoT Industri!?

Oke, jadi gini... Aku lihat yang minat dan produksi di TI hardware itu banyak, namun mereka ga muncul dan kebanyakan terhenti di fase prototype/pre-production. Dari sekian banyak orang yang tanya sama saya itu bermasalah dalam hal itu.

Kalau boleh jujur masa pre-production itu cost yg paling gede (molding, platting dsb). Kalau memang sudah niat dan yakin, kenapa ga diterusin produksi nya dan cari pendanaan gitu lho, ya paling di 20-50 juta masih oke lah buat produksi dan dibantu investor itu cukup.

Tapi disini yang paling utama dalam produksi hardware ialah kemampuan kita untuk memangkas cost production tersebut, misal pemilihan material, cara dan sebagianya dari tiap perbaikan produk tersebut tapi tetap maksimal hasilnya.

Misal dari 11 supply chain, bisa di pangkas dari waktu ke waktu dan efisien di cost. Kemudian siklus produksi hardware itu diawali desain, material, proses, kemudian kembali ke desain untuk perbaikan sampai produk bisa di pakai, baik untuk MVP maupun pra production. Kemudian tantangan berikutnya dalam hardware ialah saat produksi, tentu kita perlu bayar pabrik tertentu memproduksi nya dan tidak dapat dilakukan sendiri, ini perlu bayar lagi dan mereka tidak mau rugi dan terlibat dengan kita dalam produksi atau sharing resiko. Sebetulnya dibutuhkan pabrik yang mampu memberikan fasilitas produksi hardware skala kecil, ini akan sangat membantu perkembangan teknologi hardware dan inovasinya sebetulnya.

Nah itu tadi hasil wawancara dengan Tiyo. Menurut kamu apa yang bisa kamu ambil dari hasil bincang-bincang di atas? apa membuatmu semakin tertarik dengan industri IoT?

Dilihat kali

Is this helpful?

Share This Post